Make your own free website on Tripod.com

Takut(2)

Bagi beberapa orang, ketakutan berakar pada pengalaman traumatis masa kecil. Dari bawah sadar, ketakutan itu terus bekerja mendatangkan rasa gugup, tertekan, murung, dan sebagainya. Dan bermacam-macam phobia atau perasaan takut akan sesuatu yang berlebih-lebihan. Semasa Perang Dunia Kedua, ada seorang perwira yang tidak pernah masuk ke lubang perlindungan, walaupun di tengah desingan peluru yang gencar sekalipun. Orang banyak menyangka itu sebagai tindakan pemberani. Padahal tidak. Penyebab sebenarnya adalah ia takut pada ruangan sempit. Sewaktu kecil, di sebuah gang sempit, ia pernah diserang anjing Herder. 

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketakutan seperti itu ? Menekannya kuat-kuat ? Berupaya melupakannya ? O Saudaraku, jangan lakukan itu! Itu hanya akan memperburuk keadaan. Yang harus Anda lakukan adalah justru mengangkat ketakutan Anda itu ke permukaan. Seperti tim Gegana yang berusaha melumpuhkan sebuah bom waktu, dengan hati-hati tanpa panik, ketakutan beserta dengan akar-akarnya. itu Anda angkat sedikit demi sedikit. Dengan mengeluarkannya kemudian menatapnya. Anda akan menetralisir sengatnya yang melumpuhkan. Pengalaman buruk itu akan Anda terima sebagai pengalaman masa kanak-kanak. Tidak berhak untuk terus menguasai dan mengejar seumur hidup Anda. 

Ini, saya tahu, tidak mudah. Langkah pertama Anda akan sangat menentukan. Ada seorang wanita yang tidak berani belajar berenang. Sewaktu kecil ia pernah hampir mati tenggelam. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidak mau lagi dikuasai oleh trauma masa lalunya. Satu-satunya cara untuk mengatasi ketakutannya itu ia tahu, ialah dengan masuk ke dalam air dan belajar berenang. Betapa menegangkan langkah pertama itu! Tapi setelah berhasil dengan yang pertama, yang kedua dan ketiga menjadi jauh lebih baik.

Penulis Ibrani mengatakan, bahwa untuk mengalahkan maut, Yesus masuk ke alam maut, "Supaya dengan jalan demikian ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena traumanya kepada maut". (Ibrani 2:14-15). Cocok bukan ? (ED)