Make your own free website on Tripod.com

Takut(3)

Jenis ketakutan yang lain adalah takut kepada tekanan kelompok. Takut dikucilkan oleh kelompok. Tekanan ini memaksa orang-orang Kristen untuk mengikut arus yang paling kuat. Berkompromi mematuhi standar yang biasanya jauh di bawah standar Kristus. Takut tampil beda. Takut dibilang aneh. Kualitas kita akan terus menurun. Semakin tidak ada bedanya dengan yang lain-lain. Semakin tidak kristiani.

Padahal sejarah hampir terus-menerus membuktikan, bahwa dunia ini membutuhkan "orang-orang aneh". Orang-orang yang berani tampil beda dan melawan arus. Sebab orang-orang seperti inilah yang menyelamatkan peradaban manusia. Reformasi Indonesia tidak akan pernah terjadi tanpa orang-orang yang berani melawan arus kuat budaya politik Orde Baru, bukan ?

Kelompok, baik besar maupun kecil, selalu menuntut konfirmistis. Kurang dari standar yang ditetapkan, Anda akan dihukum. Di zaman Bung Karno, namanya ":kurang revolusioner". Di masa Soeharto sebutannya "tidak Pancasilais". Tapi sebaliknya bila lebih atau lain daripadai garis yang ditentukan, Anda akan dikejar dan dihabisi. Dicekal dan dikucilkan. Di-"Petisi 50"-kan. Jadi, mesti bagaimana dong ? Jawabnya satu: mesti loyal, patuh. Bila Anda ditanya, "Dua kali dua ada berapa ?", jawabnya: "Wah, itu mah terserah Bapak saja!". Jangan mbalelo!

Tapi, apapun resikonya, amatlah jelas apa yang dituntut oleh Tuhan dari anak-anakNya. Pandangan kelompok memang harus diperhatikan. Tapi tidak untuk mendikte dan menentukan hidup kita. Tuhan malah berkata, "Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan bangsa-bangsa lain" (Kisah Para Rasul 26:17). Bu7kan untuk menjadi ekslusif, o, tidak! Tapi juga tidak sekedar membebek, "anut ubyung" atau konfirmistis semata. Jangan pernah kalah atau mengalah terhadap tekanan atau paksaan kelompok. Kita harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia (Kisah Para Rasul 5:29). Bahkan adalah kebanggaan bila kita dapat berkata, "Mereka heran, bahwa kami tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama" (I Petrus 4:4). (ED)