Make your own free website on Tripod.com

Takut(8)

Di antara beraneka ragam jenis ketakutan yang ada, ada lagi yang disebut orang sebagai "negativisme". Disebut begitu, karena setiap kali ada orang yang mengusulkan sesuatu, reaksi pertama mereka adalah curiga dan menolak. Semua yang mereka lihat nyaris jelek, sulit, jahat dan berbahaya. Dari semua kata yang ada di dalam kamus. ada tiga kata yang paling sering mereka pergunakan, yaitu; 'tidak','bukan', dan 'jangan'.

Serba takut dan ragu. Dalam dilema senantiasa. Mau menikah, takut gagal. Tapi melajang, takut kesepian. Diperhatikan orang, merasa dicurigai. Tatpi tidak diperhatikan, merasa dilecehkan. Bekerja, wah, capek. Tapi menganggur, bosen deh. Serba salah.

Pada dasarnya, negativisme bertentangan dengan sikap iman Kristen. Sebab "Yesus Kristus, Anak Allah, " begitu tulis Paulus, "bukanlah 'ya' dan 'tidak'. Di dalam Dia hanya ada 'ya'. Kristus adalah 'ya' bagi semua janji Allah" (II Korintus 1: 19-20)

Marilah kita simak bagaimana Yesus menerapkan secara konkret sikap positif itu di dalam hidup-Nya sendiri. Hal seperti ini biasanya nampak dengan jelas ketika seseorang berada pada sebuah titik yang amat kritis di dalam hidupnya. Dan ketika orang harus mengambil keputusan seketika itu juga. Dalam hidup Yesus, salah satu titik kritis tersebut adalah, ketika Ia melihat serombongan orang bersenjata - dipimpin oleh Yudas, murid-Nya sendiri - datang untuk menangkap Dia. Sebuah titik yang akan mengawali seluruh perjalanan penderitaanNya yang panjang dan dramatis itu.

Apakah Ia melarikan diri? Adakah Ia menawarkan kompromi? Atau sebaliknya bersikap positif ? Menurut Matius, yang Yesus lakukan adalah mendatangi murid-murid-Nya, dan berkata, "Saatnya sudah tiba bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunla, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat" (Matius 26: 45-46). Berhadapan dengan situasi yang amat negatif, yaitu pengkhianat yang menyakitkan, Yesus justru bersikap sangat positif. "Bangunlah, mari kita pergi". Dengan perkataan lain, "Jangan lari! Ayo, kita hadapi". (ED)