Make your own free website on Tripod.com

Awan di atas Kehidupan Gereja-gereja Kita (1)

 

Awan hitam juga menggelantung di atas kehidupan gereja-gereja kita. Penyebabnya sama: kesetiaan serta komitmen yang terbelah. Ingin mendirikan beberapa kemah (Bandingkan Lukas 9:33). Percaya dan berserah kepada Yesus, oke, tapi plus. Karena loyalitasnya kepada Kristus terbagi, maka Injil yang dihayatinya pun tidak lagi murni. Melainkan Injil plus ......

Dengan sangat indahnya, Paulus memperlihatkan bagaimana kontroversialnya memberitakan Injil yang murni itu. Ia menulis, "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohon ... " (I Korintus 1:22-23).

Tapi betapa sering kita tidak berani memberitakan Kristus yang disalibkan. Salib itu kita ampelas dan poles agar terasa nyaman di bahu. Bobotnya kita ringankan sehingga orang mau mengangkatnya tanpa mengeluh. Salib menjadi dekorasi semata.

Mengenakan perhiasan salib tentu tidak salah. Tapi bila salib cuma berfungsi sebagai dekorasi, ini berbahaya. Sebab kekristenan tanpa salib, adalah bagaikan harimau tanpa taring. Ompong. Dan bukankah itu yang sedang menimpa kekristenan kita dewasa ini ? Ompong ! Di mana-mana orang-orang Kristen dikuyo- kuyo, dibunuhi bagai kecoa, diusiri bagaikan laron. Tapi kita total tidak berdaya, seolah-olah pilihan kita cuma tunduk atau ngamuk.

Mengapa demikian ? Karena Injil yang tanpa salib hanya akan menghasilkan orang - orang Kristen yang manja dengan mental peminta-minta. Bukan laskar-laskar Kristus ! Orang - orang Kristen yang dibiasakan cuma mendengar dongeng - dongeng pembawa tidur (Bandingkan II Timotius 2:3-4). Bukan "militia Christi" yang ditempa di medan juang. Itu sebabnya ketika awan krisis meliputi Indonesia, sebaliknya dari menghidupkan pengharapan bangsa, gereja - gereja justru cenderung kian terpuruk. Luruh seperti kerupuk.

Satu-satunya harapan bagi gereja untuk mampu menyibak awan, adalah bila ia mau mendengarkan Kristus (Lukas 9:35). Memfokuskan kembali kesetiaan kepadaNya. Supaya "di mana Aku ada, di situ pun pelayan-Ku akan berada" (Yohanes 12:26). (ED).