Make your own free website on Tripod.com

Menghadapi Kritik

Salah satu latihan yang efektif untuk menguasai amarah, adalah ketika kita menghadapi kritik. Baik kritik yang wajar dan sopan, maupun kritik yang, menurut Yesaya, "mendesak orang benar dengan alasan yang tidak-tidak" (Yesaya 29:21).

Bagaimana seharusnya kita bersikap ? Anjuran saya yang paling pertama, adalah, biasakanlah menghadapinya dnegan bertanya pada diri sendiri. Benarkah yang dituduhkan itu ? Jangan buru-buru menggerutu atau mengajak duel !

Kemungkinan besar kritik-kritik itu tidak 100% benar. Tapi pasti juga tidak 100% salah, bukan ? Nah katakanlah kritik itu cuma 25% benar, yakinlah, Anda sudah dapat menarik keuntungan dari situ. Yaitu menjadikan diri Anda lebih baik daripada sebelumnya - biar sedikit.

Yehezkiel ditetapkan oleh Allah menjadi "penjaga kaum Israel" untuk mengingatkan dan memperingatkan bangsa itu akan kesalahannya (Yehezkiel 3:16-21). Kritik, saudaraku ! adalah alat Allah untuk menjadi penjaga jiwa kita. Ia menjaga kita agar kita berjalan lurus. Kritik betapapun tidak enak, ia bermanfaat. "Hai anakku, jangalah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihiNya." (Amsal 3:11-12). Menurut logika kitab Amsal, ciri orang yang berhikmat adalah bersedia menerima teguran, kecaman bahkan fitnah sekalipun. Sedang ciri orang-orang yang bebal, dungu dan degil ? Mereka hanya mau membenarkan diri dan menampik kritik.

Muka saya pernah merah padam karena malu bercampur marah, ketika dalam sebuah acara tanya-jawab setelah berceramah seorang remaja yang masih "bau kencur", dengan tidak sopannya mencela saya, katanya, "Kalau Bapak memang tidak menjawab pertanyaan saya, katakan saja terus terang. Tidak perlu memberikan jawaban yang berputar-putar yang tidak menjawab pertanyaan !" Untung saya tidak segera bereaksi, saking "shock" dan terkesimanya. Sampai akhirnya saya mengakui, dia benar. Ia telah memberi saya pelajaran yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Ya, si "bau kencur" itu. Terima kasih, ya, 'Cur !