Make your own free website on Tripod.com

Ketika Kritik Mesti Dijawab

Kadang-kadang kita merasa heran menjawab kecaman yang ditujukan kepada kita. Demi kedamaian jiwa kita sendiri. Dan demi kejelasan bagi semua pihak. Komentar saya silahkan saja, bila hal itu menentramkan hati Anda.

Guna menghindari konfrontasi langsung. Anda lebih suka memberi penjelasan secara tertulis ? Itupun baik-baik saja. Tapi saya punya dua catatan. Pertama, tentang apa yang sebaiknya Anda tulis. Tulislah kata-kata yang Anda sendiri ingin mendengarnya, sekiranya Anda yang akan menerima surat itu ! (Matius 7:12). Jangan mengumbar emosi ! Ingatlah, api tidak akan memadamkan api. Amarah tak mungkin meredam amarah.

Saran saya yang kedua adalah, setelah selesai menulisnya, janganlah langsung mengirimkannya. Tundalah paling sedikit sampai besok. "Sleep with it", kata orang Amerika. Artinya, keloni dulu surat itu barang semalam. Siapa tahu esok hari telah berubah pikiran, yaitu ketika darah sudah tidak mendidih lagi. Prinsipnya, jangan lakukan apa-apa atau memutuskan apa-apa, ketika hati sedang panas.

Intinya adalah, meneladani sikap Yesus. Bila mesti menjawab, menjawablah seperti Yesus. Dalam Injil Lukas 5:30, kita membaca sebagai berikut. "Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid Tuhan Yesus, katanya, "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa". Lalu apa jawab Yesus ? Ia berkata, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat" (Lukas 5:31-32). Jawaban yang paling jauh dari sikap panas hati. Tak ada nada getir disitu. Tak ada juga kecenderungan membela diri. Yang terasa adalah, kebesaran jiwa dan keluhuran batin.

Itu bila Anda ingin memjawab seperti Yesus. Tapi masih ada pilihan yang lain. Yaitu, sama seperti Yesus pula, Anda tidak perlu selalu menjawab pemfitnah-pemfitnah Anda (Matius 27:12-14). Sedikit kata-kata, menghindarkan banyak dosa (bandingkan Yakobus 1:19). Biarkanlah kebenaran itu sendiri yang pada akhirnya menampakkan diri dan menjawab semua pertanyaan.