Make your own free website on Tripod.com

Satu Peristiwa, Aneka Akibat

Kita telah membahas betapa sakit dan penderitaan bisa menimpa siapa saja. Orang baik dan orang jahat. Orang Kristen maupun bukan. Namun demikian, akibat yang ditimbulkan oleh sakit dan penderitaan itu berbeda-beda dari orang ke orang. Satu peristiwa, aneka akibat. Semua itu tergantung pada sikap internal di dalam diri masing-masing orang. Benar sekali apa yang dikatakan orang berikut, "Apa yang hidup ini akan lakukan kepada kita -- baik atau buruk -- tergantung dari apa yang hidup itu didapatkan di dalam diri kita".

Sakit dan penderitaan membuat sebagian orang menjadi pemurung dan uring-uringan. Tapi pada sebagian orang lain justru menjadi tantangan yang menggairahkan kehidupan. Bukan penyebab yang eksternal itulah yang menentukan akibatnya, melainkan sikap kita yang internal. Kisah Para Rasul 5:41 menceritakan kepada kita suatu paradoks yang aneh tapi nyata. Di situ tertulis, "Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus". Mereka bergembira, mengapa ? Bukan karena berhasil memenangkan perkara, melainkan karena "telah dianggap layak menderita".

Dua ribu tahun yang lalu, ada tiga buah kayu salib terpancang di atas bukit Golgota (Lukas 23:33-43). Satu peristiwa yang sama telah menimpa tiga orang pada saat yang sama. Toh dampaknya berbeda-beda. Pada orang yang satu, sakit dan penderitaan membuat ia mengeluh, menuntut dan mengumpat. Pada yang lain, sakit dan penderitaan justru membuat ia mampu merenung serta mengenal dirinya lebih baik. Dan pada Tuhan kita, kasih dan penderitaan dilakoninya sebagai manifestasi ketaatan-Nya yang mutlak kepada Bapa dan Kasih-Nya yang total pada manusia.

Sinar matahari yang sama membuat ranting yang satu kering dan luruh, sedang ranting yang lain hijau dan tumbuh. Sebab itu yang penting bukanlah apa yang telah menimpa Anda. Tapi bagaimana Anda menyingkapinya ? Itu  menentukan apa akibatnya bagi Anda. Mudah-mudahanlah ketika listrik padam, kita tidak cuma mengumpat kegelapan, tapi mulai menyalakan lilin. (ED).