Make your own free website on Tripod.com

Ada yang Bisa Kita Lakukan

Bagaimana kita harus bersikap menghadapi sakit dan penderitaan ? Bukan menghindarinya, sebab ini sia-sia belaka. Saya mempunyai seorang teman yang pindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain, hampir-hampir setiap bulan sekali. Mengapa ? Ia ingin mencari tempat kerja yang "menyenangkan". Kita bisa memastikan, ia tak akan pernah mendapatkannya.

Di pihak lain, saya juga tidak menganjurkan agar kita menerima saja dengan pasrah apapun yang menimpa kita. Ini pun sia-sia. Sebab kita tak mungkin pasrah. Sikap menyerah secara serta merta berarti menjadikan diri kita tidak lebih dari bagaikan sabut kelapa yang dihempaskan oleh gelombang laut yang keras kesana-kemari tanpa daya. Adakah orang yang bisa betul-betul ikhlas sepenuh hati dan pasrah setulus hati diperlakukan seperti itu ? Tak seorang pun. Semut yang kecil pun tak rela diperlakukan seperti itu. Jadi,  kalaupun seolah-olah rela, itu pasti cuma karena terpaksa. Dan sesuatu yang terpaksa, pasti menyiksa batin.

Yang saya anjurkan adalah berlakulah bak seorang peselancar angin. Tidak melawan ombak, tapi juga tak sekedar menyerah. Kelihatannya dipermainkan oleh gelombang, tapi sebenarnya ialah yang mempermainkan gelombang. Atau lebih tepat: bermain-main dengan gelombang. Memanfaatkan gelombang.

Itulah sikap Paulus, ketika ia mengalami sakit dan penderitaan yang bandel tak mau pergi-pergi juga dari tubuhnya, walau telah berdoa berulangu-ulang. Demikian kesaksiannya, "Aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (II  Korintus 12:10).

Bagaimana menjelaskan kontradiksi ini" "sebab jika aku lemah, maka aku kuat" ? Artinya ialah, ketika kita lemah, sakit , dan menderita secara badaniah, maka di situ -- kalau kita mau -- terbukalah kesempatan untuk mengalami kuat dan kuasa Kristus di dalam kehidupan kita. Di mana tempat terbaik untuk menikmati cahaya bulan dan bintang ? Di dalam kegelapan ! Semakin pekat kegelapan, semakin sempurna cahayanya kita nikmati. (ED).