Make your own free website on Tripod.com

Derita yang dikehendaki Allah.

2 Korintus 7:10-11 yang akan saya kutipkan berikut ini, mungkin sekali telah pernah Anda baca. Tapi saya tidak yakin, apakah Anda menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil di situ. Di situ, antara lain, rasul Paulus menulis, "Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian." Astaganaga,
benarkah ada yang namanya "dukacita menurut kehendak Allah" ?! Bagaimana mungkin Allah yang baik menghendaki dukacita ? Iya toh ?

Ternyata mungkin. Lion Feuchtwanger, misalnya, mengatakan, "Bagi yang kuat, penderitaan menguatkan; bagi yang lemahlah, penderitaan menghancurkan".  Itu berarti penderitaan tidak selalu buruk. Penderitaan yang sama bisa menghasilkan dampak yang berbeda-beda. Sir Alfred Tennyson bahkan bisa mengatakan, "Wahai, bagi mereka yang berkemauan baja ! / Mereka menderita, tapi takkan lama; / Mereka menderita, tapi takkan salah ".


Menurut Paulus, penderitaan menurut kehendak Allah itu menghidupkan, sedang penderitaan menurut kehendak dunia itu membinasakan. Dalam Matius 7:20, Yesus mengatakan, "Dari buahnya orang mengenal pohonnya". Itu berarti, 
apakah suatu penderitaan tertentu pantas kita sandang, sebab berasal dari Allah, dapat kita nilai dari dampaknya. Yaitu, apakah penderitaan itu menjadikan yang bersangkutan lebih baik ketimbang sebelumnya, atau justru menghancur-luluhkannya ? Kualitas sebuah bangsa juga dapat dinilai dari situ. Apakah sebuah krisis hebat - seperti Jerman dan Jepang setelah PD II - melecutnya untuk bangun, ataukah - seperti Indonesia - justru meluruhkannya seluruh daun.

Arti lain dari "menderita menurut kehendak Allah", adalah tetap setia di jalan Allah, sekalipun penderitaan mendera. Senantiasa "bertindak hati-hati, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sehingga beruntung senantiasa ke mana pun ia pergi" (bandingkan Yosua 1:7). Penderitaan tidak selalu dari
Allah asalnya. Yang penting memang bukan dari mana penderitaan bermula, melainkan ke mana penderitaan itu membawa kita. Kepada kehidupan atau  kebinasaan ? Berkat atau laknat ? Kebaikan atau kejahatan ?  (ED)