Make your own free website on Tripod.com

Menyimpan sakit hati atau mendemonstrasikan Kasih

Seorang Farisi menjamu Yesus bersantap siang di rumahnya (Lukas 7:36-50). "Wah" pikir kita pasti "alangkah mulianya hati Farisi yang satu ini !" Saya tidak mengatakan bahwa semua orang Farisi busuk hatinya, tapi jangan buru-buru kita mengatakan bahwa Simon, demikian nama si pengundang, adalah orang mulia hati cuma karena ia telah mengundang Yesus bersantap siang di rumahnya.

Jalan cerita selanjutnya memperlihatkan, betapa Simon sengaja mempermalukan Yesus di depan umum. Semua tata cara yang lazim untuk menghormati tetamu, tidak dilakukannya. Keluh Yesus, " Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu; engkau tidak mencium Aku; engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak" (Lukas 7:44-46). Wah, bila kita yang mengalami perlakuan seperti itu, saya yakin itu pasti akan menggoreskan bekas luka  dan sakit hati yang amat dalam. Luka daging, oleh perjalanan waktu, akan mengering. Tapi luka hati ?

Toh Yesus tidak mau membiarkan diri-Nya dikuasai oleh sakit hati yang tak terkendali. Ia justru memanfaatkan kesempatan itu untuk mendidik Simon, bahwa kasih dan kerendahan hati justru jauh lebih mulia ketimbang kepongahan rohani dan ketinggian hati. Yesus yang ditolak oleh Simon, berkenan menerima perempuan berdosa yang dinajiskan orang. "Siomn, ada yang hendak Kukatakan kepadamu. Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih" (Lukas 7:47b). Si Farisi diingatkan akan ketinggian hatinya, tapi sekaligus kemiskinan kasihnya.

Dalam hal itu, ia sungguh kalah kelas dibandingkan dengan perempuan berdosa yang sangat dilecehkannya. Perempuan berdosa itu tidak memiliki status dan reputasi sosial setinggi Simon. Tapi, kata Yesus, ia memiliki iman. Dan iman itulah yang menyelamatkannya yang membuat ia diampuni (Lukas 7:47). Renungan ini hendak mengajak dan mengajar, tentang apa sih yang paling utama yang layak kita kejar dalam hidup keagamaan kita. Iman, kasih dan kerendahan hati. Bukan sekedar "wah" dari manusia, yang membuat religiositas kita sarat dengan kepalsuan dan kemunafikan. (ED).