Make your own free website on Tripod.com

Kesulitan Adalah Peluang, Tak Selalu Hukuman

"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing, domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang; namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelematkan aku"  (Habakuk 3 : 17-18).

Mengapa Nabi Habakuk dapat bersaksi seperti itu ? Tentu saja ia tidak bersorak-sorak dan beria-ria, karena panennya gagal dan ladangnya puso. Cuma orang yang tidak waras, yang kegirangan karena mendapat kemalangan. Tapi jangan biarkan diri Anda terlampau lama terlarut dalam kesedihan. Sebab kesulitan, bisa berarti peluang. Sayang sekali, bila karena mata Anda tertutup oleh air mata, Anda tidak mampu melihat peluang, yang kadang-kadang memang cuma muncul sekelebat lalu raib.

Saya mengakui bahwa dosa menimbulkan banyak kesulitan. Dan bahwa moral itu punya konsekuensi. Bila Anda melanggarnya, maka Anda akan menanggung akibatnya. Misalnya, Indonesia kita ini. Indonesia semakin amburadul, kacau-balau, dan remuk redam ini, karena apa ? Sebab nilai-nilai moral sudah diinjak-injak.

Namun demikian, tidak kurang dari Yesus sendiri yang dengan tegas menolak pengaitan yang serta merta antara penderitaan dan dosa (bandingkan Lukas 13:1-5). Penderitaan tidak selalu merupakan hukuman Tuhan. Bahkan bukan tidak mungkin, seperti yang telah saya katakan, ia justru merupakan peluang.

Penduduk sebuah desa percontohan di Alahabad, India, secara tidak terduga-duga menghasilkan sebuah penemuan baru. Kisahnya adalah ketika mereka memperhatikan dengan seksama tanaman terung mereka. Setiap kali musim dingin tiba, maka pucuk tanaman yang hampir berbuah itu pun beku dan mati. Tapi tak lama setelah itu, muncullah pucuk baru sebagai penggantinya. Kini, setiap kali tanaman terung mereka berbuah, mereka memotongnya. Supaya dengan demikian muncul pucuk tanaman yang lain, dan hasil mereka jadi berlipat ganda.

Tidak jarang dalam hidup manusia adalah seperti tanaman terung itu. Adanya bagian yang terpotong, walaupun pedih, bukanlah akhir segala-galanya. Sebab akan muncul pucuk lain menggantikannya. (ED).