Make your own free website on Tripod.com

Jangan Tangisi Tongkatmu yang Hilang

 

Murid-murid Yesus pasti tidak rela dan amat berduka, ketika mereka harus kehilangan Yesus. Tapi Yesus berkata, "Karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu" (Yohanes 16:6-7).

Renungan kita kali ini kembali ingin menekankan, betapa kesulitan bisa justru menciptakan peluang. Asal saja, kita jeli dan tepat memanfaatkannya. Ikutlah misalnya kisah berikut ini. Tentang seorang Ibu setengah baya, yang sejak beberapa tahun terakhir, oleh karena sesuatu masalah dengan tulang belakangnya, hanya bisa berjalan dengan disangga tongkat di ketiak kiri dan kanannya. Suatu hari, ketika menuruni tangga, ia tergelincir. Tubuhnya terguling-guling, sementara kedua tongkatnya terpental agak jauh. Ia berteriak minta tolong, tapi tidak ada seorang pun yang menolongnya. Sebab itu, tidak ada jalan lain. Dengan amat susah payah ia berusaha bangun, merangkak, dan berjalan untuk mengambil tongkatnya. Setelah beberapa lama, barulah ia sadar, bahwa ia sanggup untuk berjalan sendiri.

Tentu tidak semua orang yang mengalami keajaiban seperti itu. Tapi tidak sedikit orang yang memiliki pengalaman yang mirip. Banyak hal di dalam kehidupan ini, yang kita jadikan tempat bergantung: suami, istri, sahabat tertentu, uang, kedudukan dan sebagainya. Seolah-olah mustahil kita bisa melanjutkan kehidupan kita walau sejenak tanpa mereka. Mereka menjadi "tongkat-tongkat" kita.

Lalu, astaga, tiba-tiba malapetaka terjadi. "Tongkat-tongkat" itu terlepas dari tangan kita. Pada awalnya seolah-olah seluruh bumi runtuh di hadapan mata kita. Seluruh masa depan kita berubah menjadi kegelapan semata-mata. Tapi waktu kemudian membuktikan, seperti kata-kata Yesus yang saya kutip di atas, bahwa "mata-petaka" itu banyak pula gunanya. Bahwa yang penting bukanlah menemukan kembali tongkat kita yang hilang atau menangisinya, melainkan bagaimana melanjutkan kehidupan. Baik dengan atau tanpa tongkat.
Anda setuju ? (ED)