Make your own free website on Tripod.com

Rangkuman Sementara (1)

"Inlah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir : Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu. Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita ! Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan" (Wahyu 2:8-10).

Hidup dan penderitaan adalah ibarat durian dengan bijinya. Nangka dengan getahnya. Atau sop buntut dengan kandungan kolesterolnya. Mau yang satu ini, tak mungkin menampik yang lain. Jangan mau "enak"nya, tapi tak mau "anak"nya.

Namun bila kolesterol bisa kita hindari, misalnya dengan cara menahan diri, bagaimana mungkin menghindari kehidupan yang justru kita cari-cari ? Sebab itu konsekuensinya: bila Anda mau hidup. Anda mesti siap menderita. "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ? (Ayub 2:10).

Tapi, kata ayat kita, Tuhan tahu penderitaan kita. Dan Ia lebih besar dari kesusahan kita itu ! Betapa lama pun terasa, penderitaan itu sementara saja. Cuma kuasa dan kasih Allah saja yang kekal selama-lamanya. Sebab itu, sabda-Nya, "Jangan takut ! Jangan kalah atau menyerah ! Setialah sampai akhir ! Di akhir perjuanganmu, sebuah mahkota kehidupan siap menunggu".

Penderitaan memberi warna dan citarasa dalam hidup kita. Dengannya, saya akui, hidup kita memang tak nyaman dibuatnya. Tapi tanpanya, ah, betapa tawar dan hambarnya ! Dan inilah kabar baik yang ingin saya sampaikan: bila penderitaan adalah seumpama "warna", maka -- bagaikan membeli kemeja -- Anda bisa memilih warga putih, hitam, merah, atau apa saja. Dan bila penderitaan adalah ibarat "cita rasa", maka -- bagaikan memesan es krim -- Anda boleh memilih yang coklat, mokka atau vanilla.

Seorang wanita menderita kelumpuhan seluruh tubuhnya, hampir 50 tahun lamanya. Ia tersambar petir ketika masih kanak-kanak. Banyak orang jatuh iba. Tapi yang menarik, setiap orang yang datang menyambanginya, biasanya pulang dengan kesan yang sama. Sebaliknya dari menghibur, merekalah yang justru merasa terhibur dan dikuatkan. Perempuan itu lumpuh raganya, tetapi tidak jiwa dan semangat hidupnya. Itulah "warna" yang dipilihnya. (ED).